-->

Gagal Ginjal, Pengertian, Penyebab dan Penanganannya


1. Definisi

Gagal ginjal adalah ketidakmampuan ginjal menjalankan fungsinya akibat zat-zat yang seharusnya dapat dikeluarkan melalui ginjal menjadi tertumpuk di dalam darah ( Koes Irianto, 2014 ).
Gagal ginjal terjadi ketika ginjal tidak mampu mengangkut sisa zat metabolisme dan fungsi renal yang menurun. Suatu bahan yang biasanya dieliminasi di urin menumpuk dalam cairan tubuh akibat gangguan eksekresi renal dan menyebabkan gangguan fungsi endokrin dan metabolik, cairan, elektrolit serta asam basa. Gagal ginjal merupakan penyakit sistemik dan merupakan jalur akhir yang umum dari berbagai penyakit traktus urinarius dan ginjal ( Rendi dan Margareth, 2012 ).

2. Klasifikasi

a. Gagal Ginjal Akut
Gagal ginjal akut adalah hilangnya fungsi ginjal secara sebagian, ini terjadi mendadak hingga mengakibatkan kegagalan sirkulasi renal, disfungsi tubular dan glomerular. Ini di tandai dengan tidak bisa kencing (anuria), susah kencing (oliguria) atau volume urin sedikit.

b. Gagal Ginjal Kronis
Penyakit ginjal kronik adalah penyakit ginjal yang tidak dapat pulih ditandai dengan penurunan fungsi ginjal progresif, mengarah pada penyakit ginjal tahap akhor dan kematian (Tucker, S M, 1998 dalam Padila 2012).

3. Anatomi Fisiologi


Struktur ginjal dilingkupi selaput tipis dari jaringan fibrus yang rapat membungkusnya dan membentuk pembungkus yang halus. Di dalamnya terdapat struktur-struktur ginjal. Terdiri atas bagian korteks dari sebelah luar dan bagian medulla di sebelah dalam. Bagian medulla ini tersusun atas 15 sampai 16 massa berbentuk piramida yang disebut piramis ginjal. Puncak-puncaknya langsung mengarah ke hilus dan berakhir di kalises. Kalises ini menghubungkannya dengan pelvis ginjal.
Struktur halus ginjal terdiri atas banyak nefron yang merupakan satuan-satuan fungsional ginjal dan diperkirakan ada 1.000.000 nefron dalam setiap ginjal. Setiap nefron mulai sebagai berkas kapiler (badan Malpighi atau glomerulus) yang erat tertanam dalam ujung atas yang lebar pada nefron. Dari sini tubulus terbentuk sebagian berkelok-kelok dan sebagian lurus. Bagian pertama tubulus berkelok-kelok dan dikenal sebagian kelokan pertama atau tubula proksimal dan setelah itu terdapat sebuah simpai Henle. Kemudian tubula ini berkelok-kelok lagi disebut kelokan kedua atau tubula distal yang bersambung dengan tubula penampung yang berjalan melintasi korteks dan medulla yang berakhir di puncak salah satu piramida ( Koes Irianto, 2014).

4. Etiologi

Menurut Koes Irianto (2014) penyebab terjadinya gagal ginjal antara lain :
a. Makan makanan berlemak,
b. Kolesterol dalam darah yang tinggi,
c. Kurang berolahraga,
d. Merokok dan
e. Minum minuman beralkohol.

5. Patofisiololgi

Gagal ginjal terjadi ketika sebagian nefron (baik itu glomerulus maupun tubulus) diduga baik-baik saja sedangkan yang lain rusak (ini hipotesa untuk nefron yang aman). Nefron-nefron yang utuh, hipertropi dan memproduksi keadaan penurunan GFR / daya saring. Metode adatif ini memungkinkan ginjal untuk berfungsi sampai 3/4 dari nefron-nefron rusak. Beban bahan yang harus dilarut menjadi lebih besar daripada yang biasa direabsorpsi berakibat diuresis osmotik disertai poliuria dan haus.

Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak oliguria timbul disertai retensi produk sisa. Akhirnya gejala-gejala yang terjadi pada pasien menjadi lebih jelas. Setelah itu munculnya gejala-gejala khas kegagalan ginjal apabila 80%-90% kira-kira fungsi ginjal telah hilang. Pada tingkat ini fungsi renal yang demikian nilai kreatinin clearance turun sampai 15 ml/menit atau lebih rendah (Barbara C Long, 1996, 365 dalam Rendi dan Margareth, 2012).

6. Manifestasi Klinis

Menurut Koes Irianto (2014), penyakit gagal ginjal merupakan salah satu dari sekian banyak penyakit kronis yang berbahaya. Penyakit yang satu ini juga menyebabkan berbagai macam permasalah dalam saluran pengeluaran sang penderita. Tanda dan gejala penyakit gagal ginjal sebagai berikut:
a. Penderita penyakit yang satu ini akan mengalami peningkatan dalam tekanan darah. Hal ini jelas dikarenakan adanya overload atau kelebihan produksi hormon vasoaktif dalam tubuh penderita gagal ginjal.
b. Seseorang yang menderita penyakit gagal ginjal bisa dilihat dari kebiasaan mereka jarang makan. Orang yang paling berpotensi mengalami gagal ginjal adalah orang yang nafsu makannya tidak baik. Hal ini jelas dikarena fungsi metabolisme tubuh mereka tidak bisa bekerja dengan baik sehingga mempengaruhi nafsu makan yang dimiliki oleh penderita
c. Anemia juga menjadi salah satu gejala lain gagal ginjal. Hal ini jelas dikarenakan akibat dari penurunan produksi eripoetin, lesi gastrointestinal uremik, penurunan usia sel darah merah dan kehilangan darah biasanya dari saluran GI.

7. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan diagnostik menurut Rendi dan Margaerth (2012) :
a. Urine
Volume, warna, sendimen, berat jenis, kreatinin, protein.

b. Darah
BUN/ kreatinin, hitung darah lengkap, sel drah merah, natrium serum, kalium, magnesium fosfat, osmolaritas serum.

c. Pielografi intravena
1) Menunjukkan abnormalitas pelvis ginjal dan ureter
2) Pielografi dilakukan bila di curigai adanya obstruksi yang refersibel
3) Arteriogram ginjal
4) Mengkaji sirkulasi ginjal dan mengidentifikasi ekstravaskuler, massa.
d. Sistouretrogram berkemih
Menunjukkan ukuran kandung kemih, refluks kedalaman, ureter, retensi

e. Ultrasono ginjal
Menunjukkan ukuran kandung kemih dan adanya massa, kista, obstuksi pada saluran kemih bagian atas.

f. Endoskopi ginjal nefroskopi
dilakukan untuk pengangkatan tumor efektif, serta menentukan letak pelvis ginjal, batu ginjal dan hematuria.

8. Penatalaksanaan Medik

a. Awasi Keseimbangan Cairan
Optimalisasi dan pertahankan keseimbangan cairan dan garam biasanya diusahakan hingga tekanan vena jugularis sedikit meningkat dan terdapat edema betis ringan. Berat badan, jumlah produksi urin harian dan pencatatan balance cairan harus selalu di awasi.

b. Diet tinggi kalori dan rendah protein
Diet rendah protein (20-40 g/hari) dan tinggi kalori menghilangkan gejala anoreksia dan nausea dari uremia, menyebabkan penurunan uremia, menyebabkan penurunan ureum dan perbaikan gejala. Hindari masukan berlebihan dari kalium dan garam.

c. Kontrol hipertensi
Pada pasien ginjal disetai hipertensi, diet khusus rendah garam dan cairan yang di atur keseimbangannya dengan terfokus pada tekanan darah. Sering diperlukan diuretik loop, selain antihipertensi.

d. Kontrol ketidakseimbangan elektrolit
Yang sering ditemukan adalah hiperkalemia dan asidosis berat. Untuk mencegah hiperkalemia, dihindari masukan kalium yang besar (batasi hingga 60 mmol/hari), diuretik hemat kalium, obat-obatan yang berhubungan dengan ekskresi kalium (misalnya, penghambat ACE dan obat anti inflamasi nonsteroid), asidosis berat atau kekurangan garam yang menyebabkan pelepasan kalium dari sel dan ikut dalam kaliuresis. Deteksi kadar kalsium plasma dan EKG. 

e. Mencegah tatalaksana penyakit tulang ginjal
Hiperfostatemia dikontrol dengan obat yang mengikat fosfat seperti aluminium hidroksida (300-1800 mg) atau kalsium karbonat (500-3.000 mg) pada setiap makan.
(Arif Masjoer, hal 534 dalam Rendi dan Margareth, 2012)

9. Komplikasi

a. Hiperkalemia
b. Pericarditis, efusi pericardial dan tamponade jantung
c. Hipertensi
d. Anemia
e. Penyakit tulang


0 Response to "Gagal Ginjal, Pengertian, Penyebab dan Penanganannya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel