-->

Stroke, Pengertian, Penyebab, dan Penanganan (Lengkap + Pathway)



A. Pengertian

Stroke adalah gangguan aliran darah pada daerah fokal otak yang terkena sesuai tanda dan gejalanya, ini timbul secara mendadak.

Stroke adalah suatu gangguan neurologik fokal yang dapat timbul sekunder dari suatu proses patologi pada pembuluh darah serebral, misalnya trombosis, embolus, ruptura dinding pembuluh atau penyakit vascular dasar, misalnya aterosklerosis, arteritis, trauma, aneurisma dan kelainan perkembangan. (Sylvia A. Price, 1995)

Stroke adalah awitan defisit neurologis yang berhubungan dengan penurunan aliran darah serebral yang disebabkan oleh oklusi atau stenosis pembuluh darah karena embolisme, trombosis, atau hemoragi, yang mengakibatkan iskemia otak. (Susan Martyn Tucker, 1996).

Stroke  atau cedera cerebrovaskular (CVA) adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak. (Smeltzer & Bare, 2002).

Stroke adalah setiap gangguan neurologik mendadak yang terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalui sistem suplai arteri otak. (Price & Wilson, 2006).

Dari beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa stroke adalah gangguan sirkulasi serebral yang disebabkan oleh sumbatan atau penyempitan pembuluh darah oleh karena emboli, trombosis atau perdarahan serebral sehingga terjadi penurunan aliran darah ke otak yang timbulnya secara mendadak.

B. Klasifikasi Stroke

Menurut Wanhary dalam Karya tulis ilmiahnya proses patologi dan gejala klinisnya stroke dapat diklasifikasikan menjadi :

1.       Stroke hemoragik

Suatu gangguan peredaran darah otak yang ditandai dengan adanya perdarahan intra serebral atau perdarahan subarakhnoid. Tanda yang terjadi adalah penurunan kesadaran, pernapasan cepat, nadi cepat, gejala fokal berupa hemiplegi, pupil mengecil, kaku kuduk (Wanhari, 2008).

2.       Stroke non hemoragik

Suatu gangguan peredaran darah di otak akibat penyumbatan pada daerah di otak yang ditandai dengan hemiparese (kelemahan motoric / Anggota gerak), nyeri kepala, afasia, mual, muntah, pandangan kabur dan dysfhagia (kesulitan menelan). Stroke nonhemoragic terbagi menjadi dua: stroke embolik dan stroke trombotik (Wanhari, 2008).

C. Etiologi

Menurut Smeltzer & Bare (2002) stroke biasanya diakibatkan dari salah satu empat kejadian yaitu:

·   Thrombosis yaitu bekuan darah di dalam pembuluh darah.
·   Embolisme serebral yaitu bekuan darah atau material lain yang di bawa ke otak dari bagian tubuh yang lain.
·  Iskemia yaitu penurunan aliran darah, ini biasa adanya penyumbatan.
·  Hemoragi serebral yaitu pecahnya pembuluh darah serebral dengan perdarahan ke dalam jaringan otak atau ruang sekitar otak.
Akibat dari keempat kejadian diatas maka terjadi penghentian suplai darah ke otak, yang menyebabkan kehilangan sementara atau permanen gerakan, berpikir, memori, bicara, atau sensasi.

Faktor resiko terjadinya stroke menurut Mansjoer (2000) adalah:
·  Yang tidak dapat diubah: jenis kelamin, umur / usia, jenis ras, fibrilasi atrium, riwayat stroke, riwayat PJK (penyakit jantung coroner), dan riwayat kesehatan keluarga.
·  Yang dapat diubah: merokok, diabetes mellitus, penyalahgunaan alkohol dan obat, hipertensi, dan hematokrit meningkat.

D. Patofisiologi

Otak dan sel-sel dalam tubuh sangat membutuhkan oksigen, bila terjadi hipoksia dan menyebabkan stroke di otak akan menyebabkan kematian sel ,perubahan metabolik, dan kerusakan permanen yang terjadi dalam 3 sampai dengan 10 menit (non aktif total). Pembuluh darah yang paling sering terkena ialah arteri serebral dan arteri karotis Interna.

        Gangguan peredaran darah otak dapat menimbulkan cedera pada otak melalui empat mekanisme, yaitu :

·  Penebalan dinding arteri serebral yang menimbulkan penyempitan sehingga aliran darah dan suplainya ke sebagian otak tidak adekuat, selanjutnya akan mengakibatkan perubahan-perubahan iskemik otak.
·   Pecahnya dinding arteri serebral akan menyebabkan bocornya darah ke kejaringan (hemorrhage).
·   Pembesaran sebuah atau sekelompok pembuluh darah yang menekan jaringan otak.
·   Edema serebri yang merupakan pengumpulan cairan di ruang interstitial jaringan otak.
       Konstriksi lokal sebuah arteri mula-mula menyebabkan sedikit perubahan pada aliran darah dan baru setelah stenosis cukup hebat dan melampaui batas kritis terjadi pengurangan darah secara drastis dan cepat. Oklusi suatu arteri otak akan menimbulkan reduksi suatu area dimana jaringan otak normal sekitarnya yang masih mempunyai pendarahan yang baik berusaha membantu suplai darah melalui jalur-jalur anastomosis yang ada. Penurunan kecepatan aliran darah, sedikit dilatasi arteri serta arteriole dan gelapnya warna darah vena sebagai gambaran untuk perubahan yang terjadi pada korteks, ini akibat dari oklusi pembuluh darah.
Selanjutnya akan terjadi edema pada daerah ini. Selama berlangsungnya perisriwa ini, otoregulasi sudah tidak berfungsi sehingga aliran darah mengikuti secara pasif segala perubahan tekanan darah arteri.. Berkurangnya aliran darah serebral sampai ambang tertentu akan memulai serangkaian kerusakan jaringan secara permanen dan terjadi gangguan fungsi neural.

E. Pathway



F. Manifestasi Klinis (Tanda dan Gejala)

Tanda dan gejala penyakit stroke adalah : 
Kelemahan atau kelumpuhan lengan atau tungkai atau salah satu sisi tubuh.
Penglihatan ganda atau kesulitan melihat pada satu atau kedua mata
Pusing dan pingsan
Nyeri kepala mendadak tanpa kausa yang jelas
Bicara tidak jelas (pelo)
Sulit memikirkan atau mengucapkan kata-kata yang tepat
Tidak mampu mengenali bagian dari tubuh
Ketidakseimbangan dan terjatuh
Hilangnya pengendalian terhadap kandung kemih.


G. Komplikasi

 Komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit stroke adalah:
Hipoksia serebral, diminimalkan dengan memberi oksigenasi darah adekuat ke otak. Ketersediaan oksigen yang dikirimkan ke jaringan membantu memperbaiki fungsi otak. Pemberian oksigen eksternal dapat membantu dalam mempertahankan oksigenasi jaringan dan begitu juga mempertahankan haemoglobin & haematokrit.
Penurunan aliran darah serebral, bergantung pada tekanan darah, curah jantung, dan integritas pembuluh darah serebral. Hidrasi adekuat (cairan intrvena) harus menjamin penurunan viskositas darah dan memperbaiki aliran darah serebral. Hipertensi dan hipotensi ekstrim perlu dihindari untuk mencegah perubahan pada aliran darah serebral dan potensi meluasnya area cedera.
Embolisme serebral, dapat terjadi setelah infark miokard atau fibrilasi atrium atau dapat berasal dari katup jantung prostetik. Embolisme akan menurunkan aliran darah ke otak dan selanjutnya akan menurunkan aliran darah serebral. Disritmia dapat mengakibatkan curah jantung tidak konsisten dan penghentian trombus lokal. Selain itu, disritmia dapat menyebabkan embolus serebral dan harus diperbaiki.

H. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan diagnostik pada penyakit stroke:
Angiografi serebral: membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan, obstruksi arteri atau adanya titik oklusi/ ruptur.
CT-scan untuk mengetahui adanya edema serebral, adanya hematoma, adanya iskemia, dan adanya infark.
Pungsi lumbal: menunjukkan adanya tekanan normal dan biasanya ada thrombosis, emboli serebral, dan TIA (Transient Ischaemia Attack) atau serangan iskemia otak  sepintas. Tekanan pada otak meningkat dan terdapat cairan yang mengandung darah menandakan hemoragik subarachnoid (perdarahan intra kranial). Pada kasus thrombosis adanya Proses inflamasi di tandai dengan Kadar protein total meningkat.
MRI (Magnetic Resonance Imaging): menunjukkan daerah yang mengalami infark, hemoragik, dan malformasi arteriovena.
Ultrasonografi Doppler: mengidentifikasi penyakit arteriovena.
EEG (Electroencephalography) untuk mengidentifikasi penyakit didasarkan pada gelombang otak dan mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.
Sinar X: menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang berlawanan dari massa yang meluas, kalsifikasi karotis interna terdapat pada thrombosis serebral.

I. Penatalaksanaan Medis

Penatalaksaan medis menurut menurut Smeltzer & Bare (2002) meliputi: 
Diuretik untuk menurunkan edema serebral yang mencapai tingkat maksimum 3 sampai 5 hari setelah infark serebral.
Antikoagulan untuk mencegah terjadinya thrombosis atau embolisasi.
Antitrombosit karena trombosit memainkan peran sangat penting dalam pembentukan thrombus dan embolisasi.  






0 Response to "Stroke, Pengertian, Penyebab, dan Penanganan (Lengkap + Pathway)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel