-->

Asuhan Keperawatan Pasien Tuberculosis

A. Konsep Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Tuberculosis Menurut (Somantri, 2009)

Pengkajian

1. Biodata
Beberapa komponen yang ada pada identitas meliputi nama, jenis kelamin,umur, alamat, suku bangsa, agama, No.registrasi, pendidikan, pekerjaan,tinggi badan, berat badan, tanggal dan jam masuk Rumah Sakit.

2. Riwayat Kesehatan
Keluhan yang sering muncul antara lain sebagai berikut:
a. Demam :subfebris, febris (40-41 0C) hilangtimbul.
b. Batuk:terjadi karena adanya iritasi pada bronkus, sebagai reaksi tubuh untuk membuang/mengeluarkan produk radang, dimulai dari batuk kering sampai dengan batuk parulen (menghasilkan sputum) timbul dengan jangka waktu lama (>3 minggu).
c. Sesak napas :timbul pada tahap lanjut ketika infiltrasi radang sampai setengah paru.
d. Nyeri dada :jarang ditemukan, nyeri timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura, sehingga menimbulkan pleuritis.
e. Malaise: ditemukan berupa anoreksia, nafsu makan dan berat badan menurun, sakit kepala, nyeri otot serta berkeringat pada malam tanpa sebab
f. Pada atelektasis terdapat gejala berupa : sianosis, sesak napas dan kolaps. Bagian dada klien tidak bergerak pada saat bernapas dan jantung terdorong kesisi yang sakit. Pada foto toraks tampak bayangan hitam pada sisi yang sakit dan diafragma menonjol keatas.
g. Perlu ditanyakan dengan siapa klien tinggal, karena biasanya penyakit ini muncul bukan karena sebagai penyakit keturunan tetapi merukpakan penyakit infeksi menular.

3. Pemeriksaan Fisik
Pada tahap dini klien sering kali tidak menunjukan kondisi Tuberculosis. Tanda dan gejala baru dapat terlihat pada tahap selanjutnya berupa :

a. Sistemik :
Akan ditemukan malaise, anoreksia, penurunan berat badan dan keringat malam. Pada kondisi akut diikuti gejala-gejala demam tinggi seperti flu dan menggigil, sedangkan pada TB milier timbul gejala seperti demam akut, sesak napas, sianosis dan konjungtiva dapat terlihat pucat karena anemia.

b. Sistem Pernapasan
1) Ronchi basah, kasar dan nyaring terjadi akibat adanya peningkatan  produksi secret pada saluran pernapasan
2) Hipersonor/ timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada auskultasi memberikan suara sedikit bergemuruh (umforik)
3) Tanda-tanda adanya infiltra teluas atau konsolidasi, terdapat fremitus mengeras.
4) Pemeriksaan ekspansi pernapasan ditemukan pergerakan dada asimetris.
5) Pada keadaan lanjut terjadi atropi, retraksi interkostal dan fibrosis
6) Bila mengenai pleura terjadi efusi pleura (perkusi memberikan suara pekak)
7) Bentuk dinding dada pectuskarinatum




Diagnosa dan Intervensi Menurut (Nurarif & kusuma, 2015)
No
Diagnosa
Tujuan dan kriteria hasil

Intervensi
1
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan bronkospasme, penumpukan sekret.
Batasan karakteristik :
·        Tidak ada batuk
·        Suara napas tambahan
·        Perubahan frekwensi napas
·        Perubahan irama napas
·        Sianosis
·        Kesulitan berbicara atau mengeluarkan suara
·        Penurunan bunyi napas
·        Dipsneu
·        Sputum dalam jumlah yang berlebihan
·        Batuk yang tidak efektif
·        Orthoupneu
·        Gelisah
·        Mata terbuka lebar
DS:
-       Pasien mengatakan nafasnya sesak.
DO:
-       Pasien tampak sesak.
-       Pasien tampak lemah.
-       Pasien tampak pucat.
-       Terdengar suara ronchi.
-       RR: 30x / menit.
NOC
a.     Respiratory status:Ventilation
b.     Respiratory status: Airway patency
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam diharapkan masalah ketidakefektifan bersihan jalan nafas teratasi dengan kriteria hasil:
1.   Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal).
2.   Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips).
3.   Mampu mengidentifikasikan dan mencegah faktor yang dapat menghambat jalan nafas.
NIC
Airway Management

1.     Monitor respirasi dan status O2.
2.     Berikan bronkodilator.
3.     Berikan posisi high fowler / semi fowler.
4.     Ajarkan pasien melakukan teknik nafas dalam dan batuk efektif.
5.     Anjurkan minum air hangat jika tidak ada kontraindikasi.
6.     Kontrol lingkungan untuk sirkulasi udara yang adekuat.
7.     Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi OAT, Agen mukolitik,  bronkodilator dan kortikosteroid.
2
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakadekuatan intake nutrisi, dyspneu.
Batasan karakteristik :
·       Kram abdomen
·       Nyeri abdomen
·       Menghindari makanan
·       Berat badan 20% atau lebih dibawah BB ideal
·       Kerapuhan kapiler
·       Diare
·       Kehilangan rambut berlebih
·       Bising usus hiperaktif
·       Kurang makanan
·       Kurang informasi
·       Kurang minat pada makanan
·       Penurunan BB dengan asupan makanan adekuat
·       Kesalahan konsepsi
·       Kesalahan informasi
·       Membrane mukosa pucat
·       Ketidkmampuan memakan makanan
·       Tonus otot menurun
·       Mengeluh gangguan sensasi rasa
·       Cepat kenyang setelah makanan
·       Sariawan rongga mulut
·       Steatorea
·       Kelemahan otot pengunyah
·       Kelemahan otot untuk mengunyah.
DS:
-       Pasien mengatakan tidak nafsu untuk makan.
-       Pasien mengatakan hanya makan sedikit.
DO:
-       Porsi makan pasien tidak habis.
-       Pasien tampak lemah.
-       Pasien tampak pucat.
-       BB kurang dari batas normal
NOC
a.     Nutrional status: Food and Fluid intake
b.     Nutrional status: Nutrient intake
c.     Weight control
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam diharapkan masalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh teratasi dengan kriteria hasil:
1.     Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan.
2.     Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan.
3.     Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi.
4.     Tidak ada tanda-tanda malnutrisi.
5.     Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan dari menelan.
6.     Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti.
NIC
Nutrition Management

1.     Mengkaji pola makan pasien.
2.     Monitor BB pasien
3.     Kaji adanya alergi makanan.
4.     Anjurkan pasien untuk meningkatkan asupan mineral dan vitamin.
5.     Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
6.     Dorong makanan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat.
3
Resiko infeksi berhubungan dengan organisme purulen.
DS:
-      Pasien mengatakan belum pernah menderita penyakit TB paru sebelumnya.
-      Pasien mengatakan tidak ada keluarganya dan orang di lingkungan sekitarnya menderita penyakit yang sama dengan dia.
DO:
-       Pasien tampak bingung saat di tanyai tentang penyakitnya.
-       Pasien  belum pernah mengalami TB paru sebelumnya.
NOC
a.     Immune Status
b.     Knowledge: Infection control
c.     Risk control
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam diharapkan masalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh teratasi dengan kriteria hasil:
1.     Pasien bebas dari tanda dan gejala infeksi.
2.     Mendeskripsikan proses penularan penyakit, faktor yang mempengaruhi penularan serta penatalaksanaannya.
3.     Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi.
4.     Jumlah leukosit dalam batas normal.
5.     Menunjukkan perilaku hidup sehat.
NIC
Infection Control
1.  Kaji riwayat penyakit pasien.
2.  Kaji apakah ada keluarga atau orang di lingkungan terdekat pasien yang mengalami TB paru.
3.  Anjurkan pasien untuk memakai masker
4.  Berikan penkes tentang penyakit TB paru

Implementasi dan Evaluasi

No
Implementasi
Evaluasi
1


-   Mengkaji Tanda – tanda vital pasien
-   Mengkaji respirasi dan status O2 pasien.
-   Mengatur posisi baring pasien menjadi semi fowler.
-   Mengajarkan pasien teknik batuk efektif.
-   Menganjurkan pasien untuk meminum air hangat.
Mengeluarkan sekret tanpa bantuan dan menunjukkan perilaku untuk mempertahankan bersihan jalan nafas


2
-    Mengkaji pola makan pasien.
-    Memonitor BB pasien
-    Mengkaji ada tidaknya alergi makanan pada pasien.
-    Menganjurkan pasien makan dengan porsi sedikit tetapi sering.
-    
Berat badan meningkat mencapain batas  normal

3
-    Mengkaji riwayat penyakit pasien.
-    Mengkaji apakah ada keluarga atau orang di lingkungan terdekat pasien yang mengalami TB paru.
-    Menganjurkan pasien untuk memakai masker
-    Memberikan penkes tentang penyakit TB paru
Pasien melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang aman serta tidak terjadinya penyebaran infeksi yang lebih luas lagi



0 Response to "Asuhan Keperawatan Pasien Tuberculosis"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel