-->

ASUHAN KEPERAWATAN STROKE LENGKAP



Dari seluruh dampak masalah di atas (Stroke), maka diperlukan suatu asuhan keperawatan yang komprehensif. Dengan demikian pola asuhan keperawatan yang tepat adalah melalui proses perawatan yang dimulai dari pengkajian yang diambil adalah merupakan respon klien, baik respon biopsikososial maupun spiritual, kemudian ditetapkan suatu rencana tindakan perawatan untuk menuntun tindakan perawatan. Dan tahap akhir adalah evaluasi, evaluasi berfungsi untuk menilai keadaan klien. Hal diperlukan untuk merujuk tujuan pada rencana perawatan klien dengan stroke.

Perlu LP Stroke Cek Disini: Laporan Pendahuluan Stroke Lengkap

      A.      Pengkajian

Pengkajian adalah langkah awal dan dasar bagi seorang perawat dalam melakukan pendekatan secara sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisa, sehingga dapat diketahui kebutuhan klien tersebut. Pengumpulan data yang akurat dan sistematis, akan membantu menentukan status dan pola kesehatan pasien. Hingga memudahkan dalam perumusan diagnosa keperawatan (Doenges dkk, 1999).
Pengkajian pada klien dengan stroke adalah :
·         Aktivitas/ Istirahat
·         Sirkulasi
·         Integritas Ego
·         Eliminasi
·         Makanan/ Cairan
·         Neurosensori
·         Kenyamanan / Nyeri
·         Pernapasan
·         Keamanan
·         Interaksi Sosial
·         Penyuluhan/ Pembelajaran

     B.      Diagnosa Keperawatan dan Intervensi

NO
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TUJUAN DAN KRITERIA HASIL
INTERVENSI
1.
Perubahan perfusi jaringan serebral b/d edema serebral.
Kesadaran klien penuh, klien tidak gelisah
Kriteria hasil :
a.       Tingkat kesadaran membaik.
b.       Tanda-tanda vital stabil.
c.       Tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial.
1.       Pantau/catat status neurologis secara teratur dengan GCS
2.       Pantau tanda-tanda vital terutama tekanan darah.
3.       Pertahankan keadaan tirah baring.
4.       Letakkan kepala dengan posisi agak ditinggikkan dan dalam posisi anatomis (netral).
5.       Berikan obat sesuai indikasi: contohnya antikoagulan (heparin)
2.
Kerusakan mobilitas fisik b/d kelemahan.
Dapat melakukan aktivitas secara minimum
Kriteria hasil :
a.       Mempertahankan posisi yang optimal.
b.       Meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang terkena.
c.       Mendemonstrasikan perilaku yang memungkinkan aktivitas.
1.       Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktifitas.
2.       Ubah posisi minimal setiap 2 jam (telentang, miring).
3.       Mulailah melakukan latihan rentang gerak aktif dan pasif pada semua ekstremitas.
4.       Anjurkan pasien untuk membantu pergerakan dan latihan dengan menggunakan ekstremitas yang tidak sakit.
5.       Konsultasikan dengan ahli fisioterapi secara aktif, latihan resistif, dan ambulasi pasien.
3.
Kerusakan komunikasi verbal b/d kerusakan neuromuskuler.
Dapat berkomunikasi sesuai dengan keadaannya.
Kriteria hasil :
a.       Klien dapat mengemukakan bahasa isyarat dengan tepat
b.       Terjadi kesapahaman bahasa antara klien, perawat dan keluarga
1.       Kaji tingkat kemampuan klien dalam berkomunikasi
2.       Minta klien untuk mengikuti perintah sederhana
3.       Tunjukkan objek dan minta pasien menyebutkan nama benda tersebut
4.       Ajarkan klien tekhnik berkomunikasi non verbal (bahasa isyarat)
5.       Konsultasikan dengan/ rujuk kepada ahli terapi wicara.
4.
Perubahan sensori persepsi b/d stress psikologis.
Tidak ada perubahan perubahan persepsi.
Kriteria hasil :
a.       Mempertahankan tingkat kesadarann dan fungsi perceptual
b.       Mengakui perubahan dalam kemampuan.
1.       Kaji kesadaran sensorik seperti dingin atau panas, tajam atau tumpul.
2.       Catat terhadap tidak adanya perhatian pada bagian tubuh
3.       Berikan stimulasi terhadap rasa sentuhan seperti berikan pasien suatu benda untuk menyentuh dan meraba.
4.       Anjurkan pasien untuk menyadari posisi bagian tubuh tertentu.
5.       Bicara dengan tenang dan perlahan dengan menggunakan kalimat yang pendek.
5.
Kurang perawatan diri b/d kerusakan neuromuskuler, penurunan kekuatan dan ketahanan, kehilangan kontrol/ koordinasi otot
Kebutuhan perawatan diri klien  terpenuhi
Kriteria hasil :
a.       Klien bersih
b.       Klien dapat melakukan kegiatan personal hygiene secara minimal
1.       Kaji kemampuan klien dan keluarga dalam perawatan diri.
2.       Bantu klien dalam personal hygiene.
3.       Rapikan klien jika klien terlihat berantakan dan ganti pakaian klien setiap hari
4.       Libatkan keluarga dalam melakukan personal hygiene
5.       Konsultasikan dengan ahli fisioterapi/ ahli terapi okupasi
6.
Gangguan harga diri b/d perubahan biofisik, psikososial, perseptual kognitif.
Tidak terjadi gangguan harga diri. Harga diri klien meningkat.
Kriteria hasil :
1.       Mau berkomunikasi dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang terjadi.
2.       Mengungkapkan penerimaan pada diri sendiri dalam situasi.
1.       Kaji luasnya gangguan persepsi pasien. Dan hubungkan dengan derajat ketidakmampuannya.
2.       Bantu dan dorong kebiasaan berpakaian dan berdandan yang baik.
3.       Berikan dukungan terhadap perilaku/ usaha seperti peningkatan minat/ partisipasi dalam kegiatan rehabilitasi.
4.       Dorong orang terdekat agar member kesempatan pada melakukan sebanyak mungkin untuk dirinya sendiri.
5.       Rujuk pada evaluasi neuropsikologis dan/ atau konseling sesuai kebutuhan.
7.
Resiko tinggi kerusakan menelan b/d kerusakan neuromuskuler/ perseptual.
Kerusakan dalam menelan tidak terjadi.
Kriteria hasil :
a.       Mendemonstrasikan metode makan tepat untuk situasi individual dengan aspirasi tercegah
b.       Mempertahankan berat badan yang diinginkan.
1.       Tinjau ulang patologi/ kemampuan menelan pasien secara individual.
2.       Letakkan pasien pada posisi duduk/ tegak selama dan setelah makan
3.       Anjurkan pasien menggunakan sedotan untuk meminum cairan.
4.       Anjurkan untuk berpartisipasi dalam program latihan/ kegiatan.
5.       Berikan cairan melalui intra vena dan/ atau makanan melalui selang.
8.
Kurang pengetahuan tentang kondisi dan pengobatan. Berhubungan dengan Keterbatasan kognitif, kesalahan interprestasi informasi dan kurang kemampuan mengingat.
klien mengerti dan paham tentang penyakitnya
Kriteria hasil :
a.       Berpartisipasi dalam proses belajar.
1.       Kaji tingkat pengetahuan keluarga klien
2.       Berikan informasi terhadap pencegahan, faktor penyebab, serta perawatan.
3.       Beri kesempatan kepada klien dan keluarga untuk menanyakan hal- hal yang belum jelas.
4.       Beri feed back terhadap pertanyaan yang diajukan oleh keluarga atau klien.
5.       Sarankan pasien menurunkan/ membatasi stimulasi lingkungan terutama selama kegiatan berfikir

     C.  Evaluasi

Evaluasi adalah respons pasien terhadap terapi dan kemajuan mengarah pencapaian hasil yang diharapkan. Evaluasi berfungsi sebagai feed back dan bagian kontrol proses keperawatan. Ini di nilai melalui mana status pernyataan diagnostik pasien secara individual untuk diselesaikan, dilanjutkan, atau memerlukan perbaikan (Doenges dkk, 1999).
Evaluasi Askep sebagai tahap akhir dari proses keperawatan. ini bertujuan untuk menilai hasil akhir dan seluruh tindakan keperawatan yang telah dilakukan. Evaluasi ini bersifat sumatif, yaitu evaluasi yang dilakukan sekaligus pada akhir dari semua tindakan keperawatan yang telah dilakukan dan telah disebut juga evaluasi pencapaian jangka panjang.
Kriteria hasil dari tindakan keperawatan yang di harapkan pada pasien stroke adalah mempertahankan tingkat kesadaran dan tanda-tanda vital stabil, kekuatan otot bertambah dan dapat beraktivitas secara minimal, dapat berkomunikasi sesuai dengan kondisinya, mempertahankan fungsi perseptual, dapat melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri, klien dapat mengungkapakan penerimaaan atas kondisinya, dan klien dapat memahami tentang kondisi dan cara pengobatannya.  


0 Response to "ASUHAN KEPERAWATAN STROKE LENGKAP"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel